Sahabat yang di cintai Allah,
Semoga Allah yang Maha kuasa
menggologkan kita semua menjadi manusia yang mengenal cinta, alangkah bahagianya
orang yang dihidupkan hatinya dengan cinta, sehingga ia menemukan arti cinta
yang sejati.
Dan Tema inilah yang akan kita bahas pada pertemuan
kali ini.
Ibnu Qoyyum pernah mengatakan bahwa cinta adalah:
المائل الدائم لقلب الهائم
"Ketertarikan yang abadi
dengan hati yang gelisah"
Abdullah Nashih Ulwan mengatakan dalam
bukunya “Manajemen Cinta”. Menurut beliau : “Cinta adalah perasaan atau gejala
hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah,
lembut dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni yang tidak
dapat terpisahkan dengan kehidupannya. Ia selalu dibutuhkan. Jika seseorang
ingin ikut menikmatinya dengan cara yang terhormat dan mulia, suci dan penuh
taqwa, tentu ia akan mempergunakan cinta itu untuk mencapai keinginannya yang
suci dan mulia.”
Maka pantaslah kalau satu
keterangan mengatakan :
من أحب شيئا أكثر ذكره
“Barang siapa yang Mencintai sesuatu, maka ia akan banyak mengingat dan
menyebut-nyebutya”
Sahabat Al Imamul Ghazali
seorang Hujjatul Islam mengkategorikan bahwa cinta itu
dibagi menjadi tiga bagian. yaitu,
1. Cinta Lissyafaqoh
Syafaqah artinya
lembut dan halusnya perasaan. Dalam makna positif syafaqah diartikan
sebagai sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain
serta penuh kasih sayang.
Syafaqah itu
diperintahkan oleh Nabi
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik
dalam hal ini, dalam kondisi apa pun syafaqah selalu tertanam dalam
hatinya yang mulia.
Adapun ari lain,
cinta Lissyafaqoh itu adalah Cinta atau kasih saying yang tulus. Yaitu cinta
nya seorang ibu kepada anaknya.
Selama Sembilan
Ibu mengandung, da tidak pernah terbayangkan sedikitpun Alangkah susahnya
seorang ibu mengandung hingga melahirkan kita. Sembilan bulan bukan waktu yang
sangat sebentar,ini semua ditanggung oleh si Ibu dengan penuh kesabaran dan
ketabahan hati bahkan kebahagiaan.
Maka pantas kalau
Allah SWT gambarkan dalam Al-qur’an sebagaimana firman nya dalam surat Luqman
ayat 14 :

“kami
perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik kepada) kepada kedua
orangtuanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam duatahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan
kepada orangtuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu ”
2. Cinta Lissyahwat
Cinta adalah rahmat Allah swt. Namun
jika salah digunakan akan menjadi laknat. Dengan cinta pula pada ulama salaf
sanggup menulis berjuta halaman karya tanpa bantuan media teknologi.
Sebaliknya, dengan cinta pula seseorang rela menjual agamanya dengan harga yang
sangat rendah karena syhawat harta, tahta dan wanita. Hitler mampu membunuh
berjuta nyawa manusia karena cintanya.
Cinta adalah motivator paling dahsyat di planet bumi. Allah swt telah menggambarkan dalam firman-Nya (Q.S, Ali Imran:14):
Cinta adalah motivator paling dahsyat di planet bumi. Allah swt telah menggambarkan dalam firman-Nya (Q.S, Ali Imran:14):

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini (hubb al-syahawat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak
dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik (surga)”.
Adakah korelasi antara syahwat kepada wanita, anak dan harta. Dan apa yang diingini (syahwat) tersebut laksana pisau bermata dua; membahagiakan atau mencelakakan. Manusia dapat menjadi orang-orang yang bahagia dengan sebab syahwatnya. Sebaliknya, manusia dapat terjerumus ke lembah nista juga dengan syahwatnya. Karenanya, manusia diwajibkan untuk “mengendarai” syahwatnya sesuai dengan “juklak” atau petunjuk pelaksanaan yang telah dilegitimasi oleh “Sang Pencipta” syahwat. Apabila suatu “kendaraan” dikendarai secara serampangan, maka akibatnya adalah “kecelakaan”.
Untuk syahwat terhadap wanita, Allah swt mensyariatkan pernikahan. Ini juklak Ilahi yang membawa keberkatan dalam kehidupan dan mendatangkan ketenangan dan ketentraman (Q.S, al-Rum: 21).
Adakah korelasi antara syahwat kepada wanita, anak dan harta. Dan apa yang diingini (syahwat) tersebut laksana pisau bermata dua; membahagiakan atau mencelakakan. Manusia dapat menjadi orang-orang yang bahagia dengan sebab syahwatnya. Sebaliknya, manusia dapat terjerumus ke lembah nista juga dengan syahwatnya. Karenanya, manusia diwajibkan untuk “mengendarai” syahwatnya sesuai dengan “juklak” atau petunjuk pelaksanaan yang telah dilegitimasi oleh “Sang Pencipta” syahwat. Apabila suatu “kendaraan” dikendarai secara serampangan, maka akibatnya adalah “kecelakaan”.
Untuk syahwat terhadap wanita, Allah swt mensyariatkan pernikahan. Ini juklak Ilahi yang membawa keberkatan dalam kehidupan dan mendatangkan ketenangan dan ketentraman (Q.S, al-Rum: 21).

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Lewat pernikahan dapat melahirkan generasi yang
bermoral dan bermartabat. Karenanya syhawat pada wanita tidak boleh dikendarai
dengan menabrak “rambu-rambu” Ilahi, seperti dengan perzinaan dan pergaulan
bebas. Itu sebabnya Allah swt sangat mengecam perilaku perzinaan dengan hukuman
rajam dan jilid. Sebab makin banyak perzinaan berarti semakin besar pula
ketidaktentraman dalam masyarakat.
3. Cinta Litto’ah
Litto’ah yaitu cinta atas dasar
kepatuhan dan ketaatan kita terhadap Allah SWT, inilah cinta yang hakiki, cinta
yang mejadi Thoriqul Auliya, salah
satu jalan para ‘Arifin untuk sampai kepada sang khalikyang kesemuaannya ini
bias di buktikan dalam wujud iman dan amal shaleh serta taqwa bathiniyah kita
dengan sang khalik.
Sebagaimana Siti Robi’ah
AL-Adawiyah berkata :
“Sukar menjelaskan apa hakekat cinta itu, ia hanya memperlihatkan kerinduan,
gambaran perasaan dan hanya orang yang merasakannya yang dapat mengetahui”.
Dan syair yang Siti Robi’ah
AL-Adawiyah buat :
“Aku mencintai-Mu dengan dua
cinta: cinta yang penuh gairah dan cinta yang Kau berhak atasnya kusebut cinta
yang penuh gairah karena aku tak bisa mengingat selain diri-Mu kusebut cinta
yang Kau berhak atasnya karena Kau telah menyikap hijab hingga aku bisa
melihat-Mu tak patut pujian untuk diriku karena hal ini dan itu segala pujian
hanya untuk diri-Mu”.
Sahabat.. yang dicintai Allah,
Demikianlan penjelasan yang
singkat tentang Cinta Al-Mahabbah. Mudah-mudahan kita semua mampu mengenal apa
hakikat Al-Mahabbah yang sebenarnya. Bukan cinta semu, bukan cinta imitasi,
melainkan cinta yang suci, cinta Illahi, cinta Robbul Izzati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar